Kamis, 07 Maret 2013

Ketika episode itu terulang

Aku sering bilang perasaan orang jatuh cinta itu seperti Hukum Newton III --hukum aksi reaksi. Teorinya, jika benda A mengerjakan gaya pada benda B, benda B juga mengerjakan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah pada benda A. Sebab itu kenapa ketika sedang menendang tembok kaki kita terasa sakit, atau sewaktu mendayung sampan ke belakang maka rakit akan maju ke depan. Well, fisika memang rumit. Tetapi apakah serumit hukum fisika itu bila kita substitusikan dengan perasaan suka seseorang --rasaku padamu?

Kubilang, perasaan orang yang jatuh cinta itu seperti hukum aksi-reaksi. Selama apapun waktu menunggu, sesulit apapun kita menjelaskan, ketika kita jatuh cinta terhadap seseorang, maka jauh di dalam hatinya, sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama. Dia akan tau bagaimana dan sedalam apa perasaanmu terhadapnya. Sebab itu, jika kadang ketika melihatnya kamu merasakan jantungmu berpacu lebih cepat, atau darahmu sedikit berdesir, jangan takut. Dia juga begitu kok.

Sebab kedua orang yang jatuh cinta seperti hati mereka ada semacam komunikasi otak bawah sadar. Maka jangan khawatir ketika kamu mengganti display picture BBM-mu dengan foto seraut wajah dengan senyum manis dan nggak lama kemudian dia muncul dengan status, "Capek, tapi setelah liat senyummu walau cuma di foto jadi semangat ;)"


Perasaanmu nggak salah. Dia juga nggak salah. Perasaan kalian nggak salah. Dua hati yang tertaut memang akan saling bercerita bagaimana malam ini bintang romantis sekali di langit Semarang. Hanya saja ketika mengingat waktu di Semarang akan berakhir dalam waktu dekat, aku jadi gamang. Masihkah semuanya sama setelah 2 hati dipisahkan sejauh Semarang dan Jogjakarta? Bukannya hanya ikan bodoh ya, yang terjebak 2 kali dalam umpan yang sama? Dan cerita seperti ini sudah pernah terjadi --kan?

Tiba-tiba hatiku yang pengecut dibuat ketakutan. Kita cuma main-main kok, lagian sebentar lagi kan semuanya juga udah selesai, cerita kita selesai, kita akan lupa satu sama lain. Aku, kamu, mereka semua, kita akan punya jalan cerita kita masing-masing. Aku akan membebaskan jiwamu untuk memegang penamu sendiri, begitupun kamu. Sebab kita adalah tokoh dalam cerita kita masing-masing. Aku nggak ada alasan buat bilang iya, tapi hatiku juga urung mengatakan tidak. Semua ini hanya tentang perputaran waktu. Dan kita harus tetap berjalan jika tidak ingin terlempar ke dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar